Membangun Akhlak Mulia di Kalangan Murid: Fondasi Penting Pendidikan
ALUMNI CIDANGHIANG - Pendidikan tidak hanya sebatas pengetahuan akademik, tetapi juga merupakan proses pembentukan karakter dan akhlak yang mulia. Akhlak yang mulia merupakan fondasi penting yang harus dibangun sejak dini agar para murid tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki moral dan etika yang tinggi.
Akhlak
yang mulia tidak hanya
memberikan manfaat bagi individu itu sendiri, tetapi juga bagi masyarakat di
sekitarnya. Oleh karena itu, penting untuk memahami pentingnya pembangunan
akhlak di kalangan murid dan bagaimana hal itu dapat diwujudkan dalam
lingkungan pendidikan.

Hadratus Syaikh KH Hasyim Asy’ari dalam kitabnya Adabul
‘Alim wal Muta’allim tepatnya di bab kedua, menyebutkan sepuluh macam akhlak
yang hendaknya dimiliki oleh seorang murid, yaitu :
Pertama, hendaknya seorang murid membersihkan hati dari
segala hal yang dapat mengotorinya seperti dendam, dengki, keyakinan yang
sesat, dan perangai yang buruk. Hal itu dimaksudkan agar hati mudah untuk
mendapatkan ilmu, menghafalkannya, mengetahui permasalahan-permasalahan yang
rumit serta memahaminya.
Kedua, hendaknya seorang murid memiliki niat yang baik dalam
mencari ilmu, yaitu bermaksud mendapatkan ridha Allah, mengamalkan ilmu,
menghidupkan syariat Islam, menerangi hati dan mengindahkannya, dan mendekatkan
diri kepada Allah. Jangan sampai berniat mendapatkan keuntungan duniawi seperti
mendapatkan kepemimpinan, pangkat, dan harta, atau menyombongkan diri di
hadapan orang, atau agar orang menghormatinya.
Ketiga, hendaknya mempergunakan masa muda dan umurnya untuk
memperoleh ilmu, tanpa terperdaya oleh rayuan “menunda-nunda” dan
“berangan-angan” panjang,” sebab setiap detik yang terlewatkan dari umur tidak
akan tergantikan. Seorang murid hendaknya memutus sebisanya urusan-urusan yang
menyibukkan dan menghalangi sempurnanya belajar dan kuatnya kesungguhan dan
keseriusan menghasilkan ilmu, karena semua itu merupakan faktor-faktor
penghalang mencari ilmu.
Keempat, hendaknya seorang murid menerima sandang-pangan apa
adanya. Sebab kesabaran akan keserbakurangan hidup akan mendatangkan ilmu yang
luas, fokusnya hati dari angan-angan yang bermacam-macam, dan berbagai hikmah
yang terpancar dari sumbernya.
Imam Syafi’i berkata :
لا يفلح من طلب العلم بعزة النفس وسعة المعيشة،
ولكن من طلب العلم بذلة النفس وضيق المعيش وخذمة العملماء أفلح
“Orang yang
mencari ilmu disertai tinggi hati dan kemewahan hidup tidak akan berbahagia.
Tetapi yang berbahagia adalah orang yang menccari ilmu disertai rendah hati,
kesulitan hidup, dan Khidmah pada ulama”
Kelima, pandai membagi waktu dan memanfaatkan sisa umur yang
paling berharga itu. Waktu yang paling baik untuk hafalan adalah waktu sahur,
untuk pendalaman pagi buta, untuk menulis tengah hari, dan untuk belajar serta
mengulang pelajaran adalah waktu malam. Sedangkan tempat yang paling baik untuk
menghafal adalah kamar dan tempat yang paling jauh dari gangguan. Tidak baik
melakukan hafalan di depan tanaman, tumbuhan, sungai dan tempat ramai.
Keenam, makan dan minum sedikit. Kenyang hanya akan mencegah
ibadah dan membuat badan berat untuk belajar. Diantara manfaat makan dan minum
sedikit adalah badan sehat dan tercegah dari penyakit yang diakibatkan oleh
banyak makan dan minum, seperti ungkapan sya’ir :
فَإِنَّ الدَّاءَ أَكْثَرُ مَا تَرَاهُ ۞ يَكُوْنُ
مِنَ الطَّعَامِ أَوِ الشَّرَابِ
“Sesungguhnya
penyakit yang paling banyak engkau ketahui berasal dari makanan dan minuman”
Ketujuh,
bersikap wara’ (menjauhi perkara yang syubhat alias “tidak jelas” halal-haramnya)
dan berhati-hati dalam segala hal. Memilih barang yang halal seperti makanan,
minuman, tempat tinggal, dan semua kebutuhan hidup suapay hatinya terang dan
mudah menerima cahaya ilmu dan kemanaatannya.
Kedelapan,
meminimalisir penggunaan makanan yang dapat menjadi penyebab bebalnya otak dan
lemahnya panca indera seperti buah apel yang asam, buncis dan cuka. Begitu juga
dengan makanan yang dapat memperbanyak dahak (bulgham) yang memperlambat
kinerja otak dan memperberat tubuh seperti susu dan ikan yang berlebihan.
Hendaknya seorang murid juga menjauhi hal-hal yang menyebabkan lupa seperti
memakan makananan sisa tikus, membaca tulisan di nisan kuburan, masuk diantara
dua unta, dan membuah kutu hidup-hidup.
Kesembilan,
meminimalisir tidur selama tidak berefek bahaya pada kondisi tubuh dan
kecerdasan otak. Tidak menambah jam tidur selama sehari lebih dari delapan jam.
Boleh kurang dari itu asalkan kondisi tubuh cukup kuat.
Kesepuluh,
meninggalkan pergaulan karena hal itu merupakan hal terpenting yang seyogyanya
dilakukan pencari ilmu, terutama pergaulan dengan lain jenis dan ketika
pergaulan lebih banyak main-mainnya serta tidak mendewasakan pikiran. Watak
manusia itu seperti pencuri ulung (menirukan perilaku orang lain dengan cepat)
dan efek pergaulan adalah ketersia-siaan umur tanpa guna dan hilang agama bila
bergaul dengan orang yang bukan ahli agama. Jika seorang pelajar butuh orang
lain yang bisa dia temani, maka hendaknya dia menjadi teman yang baik, kuat
agamanya, bertakwa, wara’, bersih hatinya, banyak kebaikannya, baik harga
dirinya (muru’ah), dan tidak banyak bersengketa: bila teman tersebut lupa dia
ingatkan dan bila sudah sadar maka dia tolong.
Membangun akhlak mulia di kalangan murid adalah fondasi
penting dalam pendidikan. Dengan akhlak yang mulia, murid tidak hanya akan
sukses secara akademis, tetapi juga mampu menjadi individu yang berkontribusi
positif bagi masyarakat. Pedoman dalam kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim kiranya
dapat dijadikan pedoman bagi murid, sehingga bukan hanya kecerdasan akal tapi
juga keluhuran budi pekerti akhlak yang mulia bisa didapatkan.
Posting Komentar untuk "Membangun Akhlak Mulia di Kalangan Murid: Fondasi Penting Pendidikan"